Perangkat Pembelajaran
perangkat pembelajaran berbasis pembelajaran matematika
realistik (PMR) yang berhasil dikembangkan adalah RPP, Buku siswa, LKS, dan THB.
Model pengembangan perangkat pada penelitian ini mengacu pada Model Thiagarajan
yang terdiri dari empat tahap yaitu, pendefinisian (define), perancangan (design),
pengembangan(develope), dan penyebaran (disseminate).
Tahap pertama adalah tahap pendefinisian dengan 5 langkah pokok, yaitu
analisis awal-akhir, analisis siswa, analisis materi, analisis tugas, dan spesifikasi tujuan
pembelajaran. Indikator yang dihasilkan dalam spesifikasi tujuan pembelajaran
digunakan sebagaidasardalam penyusunan rancangan perangkat pembelajaran dengan
pendekatan pembelajaran matematika realistik pada materi Kubus dan balok
Tahap perancangan perangkat pembelajaran terdiri dari 4 langkah yaitu
penyusunan tes, pemilihan media, pemilihan format, dan desain awal. Pada tahap
perancangan dihasilkan Draft I. Tahap selanjutnya adalah tahap pengembangan, pada
tahap ini dihasilkan draft II perangkat pembelajaran yang telah direvisi berdasarkan
masukan dari para ahli dan kemudian dilakukan ujicoba terhadap draft II. Dari hasil uji
coba diperoleh kepraktisan dan keefektifan perangkat pembelajaran dan hasilnya
disebut draf III (perangkat final). Berikut adalah perangkat pembelajaran yang
dihasilkan dalam penelitian ini.
1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
RPP yang dikembangkan adalah RPP yang indikator pembelajaran dibedakan
menjadi dua ranah yaitu ranah kognitif, dan afektif. Indikator untuk ranah kognitif
dibagi menjadi dua yaitu kognitif produk dan proses.Komponen RPP yang
dikembangkan terdiri dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup yang
memuat karakteristik dan langkah-langkah pembelajaran matematika realistik. Pada
pembelajaran ini, siswa diminta untuk membangun pengetahuan mereka seperti para
penemu matematika terdahulu.
2. Buku Siswa
Buku siswa disusun berdasarkan materi yang telah ditentukan dan dijabarkan
sesuai dengan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dan tujuan
pembelajaran yang disesuaikan dengan pembelajaran matematika realistik.Selain itu,
Buku siswa yang dibuat disusun dan disesuaikan berdasarkan LKS yang akan
dikembangkan.
3. Lembar Kerja Siswa (LKS)
Dasar pembuatan Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah mengacu pada indikator
pembelajaran yang akan dicapai serta karakteristik pembelajaran matematika realistik.
LKS ini juga dibuat berdasarkan pada karakteristik siswa sehingga dapat mempermudah
siswa dalam memahami materi lingkaran. LKS yang dikembangkan menuntut siswa
untuk mengkontruksi sendiri pengetahuannya dan menemukan materi pembelajaran
yang akan dipelajari. Penelitian ini mengembangkan tiga LKS untuk dua pertemuan.
4. Tes Hasil Belajar (THB)
Tes hasil belajar dibuat berdasarkan materi yang telah diajarkan menggunakan
pembelajaran matematika dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik
yang akan digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa pada materi Lingkaran. Tes
hasil belajar ini terdiri dari lima soal uraian yang merupakan permasalahan-
permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak semua karakteristik pembelajaran
matematika realistik ada pada tes hasil belajar ini, misalkan karakteristik interaktif
(interaksi siswa dengan siswa).
Hasil analisis yang dilakukan terhadap pengembangan perangkat pembelajaran
berbasis pembelajaran matematika realistik ini, dihasilkan kriteria kevalidan,
kepraktisan, dan keefektifan sehingga diketahui perangkat pembelajaran dikatakan layak/baik. Kriteria kevalidan perangkat pembelajaran diperoleh dari hasil analisis
terhadap validasi yang dilakukan para ahli. Hasil analisis menunjukkan bahwa RPP,
Buku siswa, LKS, dan THB dikatakan baik karena kriteria kevalidan dengan koefisien
kevalidan lebih dari 0,60. Dengan demikian, perangkat pembelajaran yang
dikembangkan telah memenuhi kriteria kevalidan
Kriteria kepraktisan perangkat pembelajaran diperoleh dari analisis terhadap
aktivitas guru selama pembelajaran berlangsung selama dua pertemuan. Persentase
aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran pada pertemuan pertama mencapai
91,67% dengan kategori baik yaitu guru sudah menggunakan teknik pembelajaran
matematika realistik dengan baik dan pada pertemuan kedua mencapai 95,83 dengan
kategori sangat baik yaitu guru sudah menggunakan teknik pembelajaran matematika
realistik dengan baik dan tepat. Hal ini menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran
telah memenuhi kriteria kepraktisan perangkat pembelajaran dan guru mampu
mengelola pembelajaran dengan baik.
Kriteria keefektifan perangkat pembelajaran berbasis pembelajaran matematika
realistik diperoleh dari analisis terhadap aktivitas siswa pada setiap pertemuan, tes hasil
belajar, dan angket respon siswa. Dari hasil analisis aktivitas siswa diketahui bahwa
persentase aktivitas siswa pada pertemuan pertama mencapai 82,9% dengan kategori
baik dan pertemuan kedua mencapai 87,5% dengan kategori baik serta rata-rata
persentase aktivitas siswa pada semua pertemuan adalah 85,2%. Dari hasil analisis tes
hasil belajar diperoleh bahwa ketuntasan hasil belajar siswa mencapai 85,3% dari 35
siswa yang mengikuti tes. Hasil analisis angket respon siswa diperoleh bahwa lebih dari
80% siswa memberikan respon positif terhadap perangkat pembelajaran yang
dikembangkan. Dengan demikian, perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah
memenuhi kriteria keefektifan.
Pengembangan perangkat pembelajaran ini memiliki kendala dalam proses
perancangan desain awal perangkat. Hal ini dikarenakan dalam proses desain diperlukan
suatu kecakapan dalam memunculkan karakteristik-karakteristik dan langkah-langkah
pembelajaran matematika realistik (PMR) pada perangkat pembelajaran yang
dikembangkan. Proses desain tersebut juga harus memperhatikan indikator-indikator
perangkat pembelajaran yang dikemukakan oleh O’meara, sehingga diperlukan waktu
yang cukup lama dalam proses pembuatan perangkat pembelajaran. Selain itu, kendala yang dialami adalah mengkoneksikan antara rencana perangkat pembelajaran (RPP),
buku siswa, dan LKS. Oleh sebab itu, untuk membuat suatu perangkat pembelajaran
khususnya yang menggunakan pembelajaran matematika realistik (PMR), harus
diperhatikan karakteristik-karakteristik yang menjadi ciri khas pembelajaran
matematika realistik (PMR). Dengan demikian perangkat pembelajaran yang dihasilkan
mampu memunculkan karakteristik dan langkah-langkah pembelajaran matematika
realistik dalam perangkat pembelajaran tersebut.
Pembelajaran matematika menggunakan pembelajaran matematika realistik
(PMR) mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelebihan pembelajaran ini adalah siswa
dapat termotivasi dalam pembelajaran karena dalam prosesnya siswa diajak untuk
menemukan sendiri materi yang akan dipelajarinya. Selain itu, dalam menyelesaikan
suatu permasalahan, siswa dapat menggunakan berbagai cara untuk menemukan
penyelesaiaannya, dan siswa mampu mempunyainya sikap mandiri untuk mengutarakan
pendapat atau kesimpulan dari suatu peermasalahan. Kelebihan-kelebihan tersebut
berdasarkan angket respon yang telah diisi oleh siswa. Selain itu, siswa telah dapat
dikatakan berhasil melakukan pembelajaran dengan pembelajaran matematika realistik
(PMR). Hal ini dibuktikan dengan hasil dicapai setelah mengikuti Tes Hasil Belajar
lebih dari 80% siswa telah mencapai ketuntasan minimal yaitu nilai 60.
Selain mempunyai kelebihan, pembelajaran matematika realistik (PMR) juga
memiliki kelemahan yaitu siswa yang tidak terbiasa mengkonstruk suatu pengetahuan
akan mengalami kesulitan dalam proses matematisasi horisontal dan vertikal. Hal
tersebut dapat terlihat ketika proses pembelajaran, masih banyak siswa yang mengalami
kesulitan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terdapat pada LKS. Pada
proses pembelajaran masih banyak siswa yang minat bacanya rendah sehingga
mengalami kesulitan dalam memahami permasalahan yang terdapat pada LKS. Selain
itu, siswa kurang terbiasa dalam penggunaan lembar kerja siswa sehingga dalam proses
mengerjakan siswa menjawab pertanyaan tidak sesuai dengan perintah yang diminta dan
tidak sesuai dengan kolom jawaban yang disediakan. Kelemahan yang lain adalah
waktu pelaksanaan yang didesain singkat, sedangkan materi yang harus dipahami oleh
siswa membutuhkan waktu untuk memahami konsep materi lebih mendalam. Oleh
karena itu, peran guru harus ditingkatkan lagi terutama dalam menfasilitasi siswa untuk
mengkonstruksi pengetahuan mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2011. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. BumiAksara.
Hobri. 2008. Model-model Pembelajaran Inovatif. Jember: Universitas Jember.
Hobri.2010. Metodologi Penelitian Pengembangan [Aplikasi Pada penelitian
Pendidikan Matematika]. Jember: Pena Salsabila
Purwanto, N. 1992. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Jember: UPT
Dinas Balai Pengembangan Pendidikan.
Sukardi, et al. 1983. Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta:Rineke Cipta.